Pada Senin, 9 September 2024, Yayasan Kebaya Yogyakarta menyelenggarakan pelatihan pembuatan kaos shibori yang diikuti oleh transpuan dan ODHIV. Kegiatan ini merupakan bagian dari program “Pemberdayaan dan Peningkatan Kapasitas Transpuan dan ODHIV di Yogyakarta” yang didukung oleh Yayasan Kebaya-BfdW (Brot für die Welt).
Shibori, sebuah teknik tradisional dari Jepang yang menggunakan metode kain celup untuk menghasilkan pola-pola unik, menjadi media kreatif bagi peserta untuk mengekspresikan diri mereka. Dalam suasana yang hangat dan inklusif, para peserta tidak hanya belajar teknik baru, tetapi juga membangun rasa percaya diri dan solidaritas antar komunitas.
Selama pelatihan, peserta dengan antusias mencelupkan kain ke dalam larutan pewarna, menciptakan beragam pola yang mencerminkan kepribadian dan kreativitas masing-masing. Proses tersebut menjadi momen refleksi dan eksplorasi diri, di mana seni menjadi sarana bagi peserta untuk menyalurkan ekspresi personal mereka. Di bawah bimbingan pelatih yang berpengalaman Mbak Lia-owner Dimas Shibori, mereka menghasilkan karya yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga sarat makna sebagai simbol ketahanan dan kekuatan komunitas transpuan dan ODHIV.
Selain fokus pada aspek seni, pelatihan ini juga bertujuan untuk membuka peluang ekonomi bagi para peserta. Dengan keterampilan yang mereka dapatkan, diharapkan produk-produk kaos sibori yang mereka hasilkan dapat dipasarkan, sehingga memberi mereka kesempatan untuk meraih kemandirian finansial. Kegiatan ini juga menjadi langkah penting dalam meningkatkan kapasitas mereka untuk terus berkembang, baik secara individu maupun sebagai bagian dari komunitas yang lebih luas.
Hasil Karya Kaos Shibori Peserta
Pelatihan ini menjadi salah satu bentuk nyata dari komitmen Yayasan Kebaya Yogyakarta dalam memberdayakan komunitas transpuan dan ODHIV di Yogyakarta. Dengan semangat inklusivitas, kreativitas, dan solidaritas, Yayasan Kebaya percaya bahwa setiap individu berhak untuk berkembang dan berdaya, terlepas dari latar belakang mereka. Kegiatan seperti ini tidak hanya memupuk keterampilan baru, tetapi juga menciptakan ruang bagi dialog, empati, dan kolaborasi yang memperkuat ikatan komunitas.
























