Yayasan Kebaya berkolaborasi dengan donatur International meluncurkan program riset mendalam 2024-2025 untuk mengidentifikasi peluang ekonomi bagi komunitas LGBTQI+ dan merumuskan strategi yang efektif untuk memperkuat posisi ekonomi mereka. Riset ini melibatkan wawancara dengan 40 wirausaha LGBTQI+ untuk menggali kisah sukses, tantangan, dan peluang ekonomi yang mereka hadapi. Data yang dikumpulkan akan digunakan untuk merumuskan solusi yang dapat meningkatkan ketahanan ekonomi komunitas.
Diseminasi Hasil Riset
Acara diseminasi hasil riset ini dihadiri oleh perwakilan CBO Komunitas Transpuan DIY, pelaku usaha kelompok seperti CU, Koperasi, dan Kube, serta jaringan yang peduli terhadap pengembangan usaha dan mitra lainnya seperti Elkis, YVI, AJI, Pengabdian Masyarakat Kedokteran UGM, Yayasan Rumah Kasih Bunda Theresa, Dr. Sandeep, Dr. Lintang, Pak Ardi, dan Kak Jonta yang mensupport event ini.
Hasil riset ini merekomendasikan penguatan usaha kelompok sebagai salah satu aspek peningkatan resiliensi bagi komunitas transpuan. Rekomendasi ini akan menjembatani komunikasi dengan stakeholder pemerintah dan mitra pelaku bisnis, menciptakan peluang baru dan strategi yang lebih inklusif untuk pengembangan ekonomi komunitas transpuan di Yogyakarta.
Sasaran
Kegiatan ini menyasar pelaku usaha ekonomi transpuan baik perorangan maupun kelompok yang terdiri dari sekitar 40 orang berdomisili di seluruh wilayah DIY (Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, Kabupaten Kulonprogo, dan Kabupaten Gunungkidul).
Waktu
Penelitian ini berlangsung dari minggu pertama bulan Mei hingga minggu keempat bulan Juni 2024, dengan harapan seluruh kegiatan penelitian dapat selesai dalam rentang waktu dua bulan.
Tim Peneliti
Tim peneliti terdiri dari dua peneliti ahli: Pak Saptawidi dan Bu Novi (Erat Indonesia), serta empat enumerator/vocal point komunitas: Arum Marisca (Korlap), Sukma Barat (Staff Lapangan), Yetti Rumaropen (Staff Lapangan), dan Shella Edo (Staff Lapangan). Koordinator kegiatan riset adalah Rully Mallay.
Tujuan dan Harapan
Riset ini bertujuan memberikan wawasan mendalam tentang kondisi ekonomi komunitas LGBTQI+ dan membuka jalan bagi peluang baru yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Dengan dukungan dari seluruh pihak, riset ini diharapkan dapat mewujudkan masa depan yang lebih inklusif dan berdaya bagi komunitas LGBTQI+.
Berikut hasil riset ini sebagai pertanggungjawaban ilmiah terhadap kegiatan yang telah dilakukan.
KAJIAN EKONOMI TRANSPUAN DIY 2024
Yayasan Kebaya Yogyakarta telah melakukan kajian mendalam untuk mengidentifikasi peluang dan tantangan ekonomi yang dihadapi oleh komunitas transpuan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kajian ini melibatkan 40 responden, termasuk 35 pelaku usaha dan 5 staf Yayasan Kebaya. Dari 35 pelaku usaha, 28 terlibat dalam organisasi keuangan kolektif seperti Koperasi dan Credit Union (CU), sementara 7 lainnya tidak terlibat.
Temuan Utama
- Demografi dan Jenis Usaha:
- Kategori usia: 31-40 tahun (7 orang), 41-50 tahun (11 orang), 51-60 tahun (14 orang), dan >60 tahun (8 orang).
- Jenis usaha: Kecantikan (40%), Perdagangan (17%), Kuliner (12%), Jasa (11%), Fashion (6%), Ternak (3%), dan Lainnya (11%).
- Tantangan Usaha:
- Kepuasan usaha: 34,3% menyatakan belum puas karena banyak hambatan, 14,3% ragu-ragu, 37,1% puas, dan 14,3% sangat puas.
- Potensi usaha: 2,9% merasa kurang menjanjikan, 11,4% ragu-ragu, 54,3% cukup baik, dan 28,6% menjanjikan.
- Tantangan utama: Modal (71,4%), lokasi usaha (34,3%), persaingan usaha (31,4%), pasar/konsumen (28,6%), waktu & tenaga (22,9%), teknologi (17,1%).
- Promosi dan Kerjasama:
- Sebanyak 68,6% responden tidak mempromosikan usaha mereka secara digital.
- 88,6% responden merasa Koperasi/CU/KUBe bermanfaat bagi usaha mereka.
- Kendala modal dan keterbatasan pengelolaan keuangan menjadi tantangan utama.
- Manfaat Koperasi/CU/KUBe:
- Modal (96,4%), simpan pinjam (53,6%), pengelolaan keuangan (32,1%), pendampingan usaha (39,3%), pengawasan (17,9%), dan rencana bersama (17,9%).
- Tantangan personal: 51,4% responden mengaku kurang mampu mengelola keuangan personal, dengan hutang yang semakin meningkat.
Rekomendasi
- Kolektif Transpuan Yogyakarta:
- Melanjutkan penguatan kapasitas ekonomi melalui Koperasi, CU, dan KUBe.
- Menguatkan kapasitas pelaku usaha dalam kerjasama lintas usaha, promosi digital, dan strategi usaha.
- Membangun kerjasama lintas lembaga untuk meningkatkan pengelolaan keuangan personal.
- Koperasi, Credit Union & KUBe:
- Menguatkan pengelolaan organisasi keuangan transpuan.
- Meningkatkan pengawasan implementasi AD/ART secara terbuka.
- Mengembangkan jejaring dengan pelaku usaha non-transpuan.
- Stakeholder Pelaku Usaha:
- Meningkatkan dukungan bagi pelaku usaha transpuan melalui informasi, pendampingan, dan fasilitasi tanpa diskriminasi.
- Menyediakan akses kredit usaha kecil baik secara langsung maupun bersama dengan kolektif transpuan.
- Peneliti Selanjutnya:
- Melakukan kajian lebih dalam terkait kendala personal dalam mengelola keuangan.
Penutup
Kajian ini menegaskan pentingnya peran Koperasi, CU, dan KUBe dalam mendukung ketahanan ekonomi komunitas transpuan di Yogyakarta. Yayasan Kebaya Yogyakarta berkomitmen untuk terus menguatkan dan mengembangkan usaha kelompok transpuan melalui pendekatan ini, demi mencapai kemandirian ekonomi yang lebih baik.















