The Power of Self Healing: Saat Air Mata Menjadi Titik Awal Kekuatan

Selasa, 10 Juni 2025 | Hotel Tara Yogyakarta

Ruang pertemuan itu tampak biasa dari luar. Tapi siapa sangka, di dalamnya terjadi hal luar biasa — hati yang retak belajar untuk menyatu, luka yang lama tersimpan perlahan diberi nama, dan air mata yang jatuh bukan karena lemah, tapi karena berani.

FGD bertema “The Power of Self Healing: Seni Pemberdayaan Diri dalam Penyembuhan Luka Batin” yang diselenggarakan oleh Yayasan Kebaya Yogyakarta, mempertemukan para peserta dari komunitas transpuan, ODHIV, dan alumni Smart-Transchool 2024 dalam ruang aman yang jarang mereka temukan di luar sana.

Dipandu dengan penuh empati oleh Mbak Jatu Anggraini, seorang psikolog sekaligus sahabat jiwa yang hangat, forum ini membuka pintu refleksi yang dalam. Kami tidak hanya berbicara tentang trauma, tetapi juga tentang keberanian untuk menghadapinya, tentang memori yang dulu menyakitkan, dan kini diubah menjadi sumber kekuatan.

“Aku Menangis, Tapi Aku Tidak Takut Lagi.”

Salah satu momen paling menggetarkan adalah ketika seorang peserta, sembari menatap foto masa kecilnya, menangis dalam diam. Air matanya jatuh tanpa disadari, seakan tubuhnya sedang membebaskan beban bertahun-tahun. Tapi yang paling menyentuh adalah ketika ia, dalam suara yang gemetar tapi tegas, berkata:

“Saya tahu ini semua menyakitkan… tapi saya percaya, suatu hari nanti saya akan sukses. Saya hanya perlu terus maju, sedikit demi sedikit.”

Itulah inti dari self healing. Bukan menghapus masa lalu, tapi mengubah cara kita memaknainya. Dan di situlah seni pemberdayaan diri bekerja — bukan dengan membungkam luka, melainkan mengubahnya menjadi sumber kekuatan untuk melangkah.

Foto, Memori, dan Ruang untuk Pulih

Dalam sesi ini, peserta diajak melihat kembali potret diri mereka di masa lalu. Ternyata, selembar foto bisa menjadi cermin paling jujur: menggugah kenangan, menghadirkan rasa, dan membukakan pintu penyembuhan. Sebagian peserta menangis, sebagian terdiam lama, tapi semuanya memeluk versi lamanya dengan lebih berani.

Banyak dari mereka belum pernah punya ruang untuk mengatakan, “Saya pernah terluka.” Tapi hari itu, mereka bukan hanya mengatakan — mereka merasakan, dan saling menguatkan.

Ruang Aman yang Mengubah Segalanya

Bagi banyak orang, healing hanyalah kata populer di media sosial. Tapi bagi mereka yang hadir hari itu, healing adalah kebutuhan jiwa. Ruang ini menjadi tempat pertama, mungkin satu-satunya, di mana mereka merasa dilihat sebagai manusia seutuhnya — bukan hanya identitas, bukan hanya status kesehatan, tapi sebagai jiwa yang ingin pulih dan tumbuh.

Komitmen untuk Pulih dan Memberdayakan Diri

Yayasan Kebaya Yogyakarta berkomitmen menciptakan lebih banyak ruang seperti ini: ruang penyembuhan, ruang refleksi, dan ruang pertumbuhan. Karena kami percaya, perempuan trans dan ODHIV bukan objek belas kasihan — mereka adalah subjek perubahan. Dan perubahan sejati dimulai dari dalam diri.


Terima kasih kepada semua peserta yang telah membuka hati dan cerita.
Terima kasih telah menunjukkan bahwa pulih bukan hanya mungkin — tapi sangat mungkin, bila kita berjalan bersama.


“Luka tidak membuatmu lemah. Luka membuatmu utuh.”

Bagikan post ini :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *