Yogyakarta, Februari 2025 — Dalam sebuah ruangan hangat di Kantor Yayasan Kebaya Yogyakarta, sekelompok jiwa berkumpul bukan hanya untuk membaca sebuah buku, tetapi untuk menyelami ulang makna iman, keberadaan, dan kemanusiaan. Acara bedah buku “Tafsir Sensitif Gender dan Seksualitas: Membangun Jembatan Inklusi bagi Kaeagamaan Kelompok Normatif” ini menjadi ruang yang tidak hanya intelektual, tapi juga spiritual dan personal—terutama bagi mereka yang selama ini hidup dalam bayang-bayang pinggiran.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Yayasan Kebaya Yogyakarta, sebuah lembaga yang sejak lama dikenal sebagai rumah yang aman bagi komunitas waria/transpuan dan kelompok rentan lainnya. Kali ini, kegiatan menjadi lebih istimewa dengan kehadiran para alumni SMART TransSchool 2024, program unggulan Yayasan Kebaya-Brot für die Welt, yaitu pendidikan inklusif berbasis komunitas yang membekali transpuan dengan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran kritis.
Buku Tafsir Sensitif Gender dan Seksualitas: Membangun Jembatan Inklusif bagi Keagamaan Kelompok Non-normatif karya Arif Nuh Safri diterbitkan oleh CV Kontradiksi Indonesia Grup pada tahun 2024, dengan ketebalan 459 halaman

Buku Tafsir Sensitif Gender dan Seksualitas, karya Arif Nuh Safri ini menggugah kesadaran bersama tentang pentingnya menghadirkan tafsir agama yang berpihak pada kemanusiaan. Arif, yang juga merupakan dosen dan pendamping spiritual komunitas transpuan di Yogyakarta, menuliskan tafsir dengan pendekatan yang berani dan penuh welas asih—berangkat dari pengalaman mendampingi komunitas yang seringkali tidak terdengar suaranya dalam wacana keagamaan arus utama.
Arif Nuh Safri, dalam paparannya, menekankan bahwa tafsir keagamaan tidak pernah netral. Ia lahir dari konteks, pengalaman, dan keberpihakan. “Selama ini, tafsir hanya mendengar suara dari menara. Kini saatnya tafsir juga mendengar dari lorong-lorong kecil tempat komunitas ini bertahan hidup,” katanya.
Dalam sesi diskusi, tidak sedikit peserta yang terdiam lama—menahan emosi ketika membaca bagian-bagian yang merefleksikan pengalaman mereka sendiri: ditolak di tempat ibadah, dianggap “dosa berjalan”, atau dilabeli sebagai “kaum Luth” tanpa pemahaman utuh. “Selama ini, saya takut dekat dengan ayat. Tapi lewat buku ini, saya merasa ayat juga bisa mendekat ke saya,” ucap salah satu alumni SMART TransSchool dengan suara bergetar.
Buku ini tidak hanya meyajikan tafsir yang eksklusif, tetapi juga menawarkan cara pandang baru—bahwa keadilan gender dan keberagaman identitas harus menjadi bagian dari kesadaran beragama. Diskusi berlangsung terbuka dan penuh empati, memperlihatkan bahwa komunitas trans bukan hanya subjek pembaca, tetapi juga pencipta makna dalam keberagamaan.






Kegiatan Diskusi dan Bedah Buku ini bukan sekadar ruang diskusi, tetapi cerminan dari upaya berkelanjutan Yayasan Kebaya dalam memulihkan martabat komunitas yang kerap dilupakan—melalui pendidikan yang tidak hanya mengasah nalar, tetapi juga menumbuhkan jiwa.
Di sinilah kita diingatkan bahwa keberagamaan tak seharusnya menyingkirkan, melainkan memeluk semua rupa manusia dengan kasih. Yayasan Kebaya terus menjadi ruang aman untuk tumbuh, belajar, dan menyembuhkan, terutama bagi mereka yang telah terlalu lama berdiri di luar lingkar norma.
“Tuhan tidak meminta kita menjadi seragam, tapi menjadi adil dan penuh kasih.”
— kutipan dari buku
