Pelatihan Pemulasaran Jenazah bagi Transpuan dan ODHIV

Pada hari Selasa, 22 April 2025, suasana di kantor operasional Yayasan Kebaya Yogyakarta terasa berbeda. Di tengah kesibukan harian, terselip kegiatan yang hening namun penuh makna: Pelatihan Pemulasaran Jenazah, bersama Ustaz Arif Nur Safri, yang khusus diadakan untuk komunitas transpuan dan ODHIV.

Kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama Yayasan Kebaya dengan mitra donatur kami, Bread for the World (BfdW), sebagai upaya memperkuat kapasitas spiritual komunitas dan menghadirkan ruang belajar yang inklusif dan penuh kasih.

Tak hanya diikuti oleh peserta baru, pelatihan ini juga melibatkan dua orang perwakilan alumni Sekolah Inklusi SMART-Transchool 2024. Kehadiran mereka menjadi jembatan yang menginspirasi—mewakili semangat pembelajaran berkelanjutan dan kontribusi aktif alumni dalam mendampingi proses penguatan komunitas.

Merawat hingga Akhir dengan Iman dan Cinta

Di ruang pelatihan, peserta datang dengan hati terbuka. Mereka hadir bukan hanya untuk memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga untuk menyelami nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan yang terkandung dalam pemulasaran jenazah—sebuah fardhu kifayah yang sering kali luput dari ruang belajar kelompok marjinal.

Pelatihan diawali dengan pembukaan yang hangat, dilanjutkan dengan pengantar dari Ustaz Arif tentang hak-hak jenazah dan adab merawat tubuh orang yang telah wafat. Beliau menyampaikan syarat dan rukun pemulasaran secara mendalam, mulai dari niat, tata cara memandikan, mengkafani, menyalatkan, hingga menguburkan jenazah, sesuai ajaran Islam yang rahmatan lil alamin—rahmat bagi seluruh semesta.

Bukan sekadar teori, sesi dilanjutkan dengan simulasi praktik pemulasaran menggunakan alat peraga dan kain kafan. Para peserta, yang sebagian besar baru pertama kali menyentuh ilmu ini, tampak serius namun antusias. Mereka bergiliran mencoba memandikan dan mengkafani, didampingi langsung oleh Ustaz Arif, dalam suasana penuh khidmat dan kehangatan.

Ini Tentang Hak, Ruang, dan Penerimaan

Bagi komunitas transpuan dan ODHIV, ruang-ruang seperti ini sangat berarti. Banyak dari mereka kerap terpinggirkan dari akses pendidikan agama maupun keterlibatan dalam ritus keagamaan. Namun melalui pelatihan ini, mereka dilibatkan, dihormati, dan diberikan hak untuk belajar dan berkontribusi—bukan sebagai objek, tapi sebagai bagian utuh dari umat.

Kegiatan ini menjadi wujud nyata dari komitmen Yayasan Kebaya Yogyakarta dalam memperluas akses spiritual dan sosial, serta mendorong keterlibatan aktif komunitas dalam tradisi keagamaan yang inklusif dan penuh kasih.

Karena bagi kami, iman tidak mengenal batas identitas, dan kasih sayang tidak pernah memilah siapa yang layak dihormati hingga ke akhir hayat.

Bagikan post ini :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *