Merayakan Keberagaman, Kreativitas, dan Kebersamaan
Pada Minggu, 22 Juni 2025, suasana Kampung Badran, Jetis, Yogyakarta berubah menjadi ruang perayaan yang penuh warna. Jalanan yang biasanya tenang mendadak semarak dengan tenda-tenda biru memanjang, bau jajanan pasar yang menggoda, irama musik tradisional yang mengalun, dan senyum orang-orang yang bertemu dalam satu tujuan: merayakan Gebyar UMKM & Seni Budaya Nusantara 2025.
Acara ini diselenggarakan oleh Yayasan Kebaya Yogyakarta, bekerja sama dengan warga dari 10 RT Kampung Badran dan komunitas transpuan Yogyakarta, serta didukung oleh jaringan NGO dan komunitas mitra. Lebih dari sekadar hiburan, kegiatan ini menjadi ruang belajar, berbagi, dan memperkuat hubungan antarwarga melalui edukasi SOGIESC, promosi produk UMKM, serta pelestarian budaya lokal.
Pagi yang Ceria: Senam Bersama Warga
Sejak pukul 6 pagi, halaman kampung dipenuhi oleh warga dari berbagai usia — anak-anak, remaja, hingga lansia — yang mengikuti senam ceria. Dipandu instruktur dengan gerakan sederhana namun penuh semangat, tawa dan sapaan akrab mewarnai pagi itu. Senam ini bukan hanya soal menjaga kebugaran, tapi juga cara sederhana untuk memulai hari dengan energi positif dan rasa kebersamaan.






UMKM: Kreativitas Warga & Komunitas
Usai senam, tenda-tenda bazar UMKM mulai ramai. Produk-produk unik karya UMKM dari 10 RT Kampung Badran, UMKM komunitas transpuan, dan jaringan NGO mitra dipajang dengan bangga: batik, ecoprint, tas rajut, jamu tradisional, hingga jajanan khas pasar Jogja.
Setiap stand punya cerita, setiap pelaku usaha punya semangat yang luar biasa. Di balik senyum penjual dan ramainya transaksi, ada pesan yang ingin disampaikan: UMKM bukan hanya soal jualan, tapi cara untuk menguatkan kemandirian, membangun jaringan, dan merayakan kreativitas tanpa batas.











Sore Hingga Malam: Panggung Seni yang Menyatukan
Menjelang malam, suasana semakin semarak. Pentas Seni Budaya menjadi puncak acara. Panggung terbuka di tengah kampung menghadirkan berbagai penampilan: Tari Golek yang anggun, Tari Angguk yang menghentak, Jathilan yang magis, hingga penampilan komedi menghibur dari Trio Betty yang sukses membuat penonton tergelak.
Yang membuat malam ini istimewa adalah siapa yang ada di panggung: seniman lokal, komunitas transpuan, anak muda, dan warga kampung. Semua tampil setara, semua punya ruang untuk mengekspresikan diri. Panggung ini bukan milik satu golongan, tapi milik semua yang hadir.























Lebih dari Sekadar Acara
Gebyar UMKM & Seni Budaya bukan hanya pesta rakyat. Ia adalah wujud nyata dari komitmen Yayasan Kebaya Yogyakarta untuk:
- Memberdayakan komunitas transpuan, warga, dan pelaku UMKM melalui promosi produk dan jaringan kolaborasi.
- Menghadirkan edukasi SOGIESC dalam ruang yang inklusif dan menyenangkan.
- Merawat warisan seni dan budaya sebagai bagian dari identitas bersama.
Melalui kegiatan ini, Yayasan Kebaya ingin menunjukkan bahwa pemberdayaan, edukasi, dan kebudayaan bisa berjalan beriringan. Di sinilah komunitas bertemu, belajar, dan tumbuh bersama.
Didukung Penuh oleh Proyek BfdW
Kegiatan ini menjadi bagian dari proyek:
“Strengthening the Resilience of Trans Women and PLHIV Communities in Yogyakarta”
Didukung penuh oleh Bread for the World (BfdW), melalui Program – SOGIESC Education & Product Promotion
Gebyar UMKM & Seni Budaya Kampung Badran 2025 adalah bukti bahwa kolaborasi mampu melahirkan perayaan yang bukan hanya meriah, tetapi juga penuh makna: memperkuat ekonomi warga, meneguhkan budaya, dan menghadirkan ruang aman bagi keberagaman.
