Yogyakarta – Yayasan Kebaya Yogyakarta memfasilitasi pertemuan bersama puluhan transpuan pekerja di situasi jalanan (pengamen) untuk menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) yang dapat menjadi pedoman bersama dalam bekerja secara aman, tertib, dan saling menghormati. Pertemuan yang berlangsung pada 19 Juni 2026 ini dihadiri oleh lebih dari 30 peserta dari berbagai wilayah kerja di Yogyakarta.
Kegiatan ini berangkat dari kebutuhan nyata di lapangan. Situasi kerja yang semakin dinamis, meningkatnya pengawasan di ruang publik, berkurangnya lokasi bekerja, hingga berbagai tantangan sosial yang dihadapi transpuan menjadi alasan penting untuk menyusun aturan bersama yang disepakati komunitas.
Dalam pembukaan, Bunyai YS menyampaikan bahwa SOP bukan sekadar aturan, melainkan kesepakatan bersama agar teman-teman dapat bekerja dengan lebih aman, nyaman, dan memiliki pedoman yang jelas saat menghadapi berbagai situasi di lapangan. Mami Vinolia juga mengajak para seniman waria untuk aktif memberikan masukan dan solusi kreatif terhadap berbagai tantangan yang dihadapi sehari-hari.











Berbagi Pengalaman dari Berbagai Wilayah
Diskusi berlangsung terbuka dan penuh partisipasi. Para peserta berbagi pengalaman terkait kondisi kerja di beberapa wilayah seperti Proliman, Monjali, Mangkubumi, Kalicode, hingga Malioboro. Beberapa isu yang muncul antara lain:
- Semakin terbatasnya ruang dan peluang kerja.
- Pengawasan yang lebih ketat dari aparat maupun pengelola kawasan.
- Masih adanya stigma dan perlakuan tidak menyenangkan dari sebagian masyarakat.
- Munculnya konten video yang merekam transpuan tanpa izin untuk diunggah ke media sosial.
- Tantangan menjaga hubungan baik antar sesama pekerja di lapangan.
Selain itu, peserta juga mengingatkan pentingnya menjaga emosi saat bekerja. Beberapa pengalaman menunjukkan bahwa konflik kecil dapat berkembang menjadi masalah besar yang berdampak pada seluruh komunitas.
Solidaritas dan Pengendalian Diri Menjadi Kunci
Salah satu pesan yang paling banyak muncul dalam diskusi adalah pentingnya menjaga solidaritas. Para peserta sepakat bahwa lahan kerja yang masih tersedia harus dijaga bersama.
Diskusi juga menyoroti pentingnya:
- Menjaga tutur kata dan sikap saat bekerja.
- Tidak membawa masalah pribadi ke lokasi kerja.
- Menghindari konflik dengan masyarakat maupun sesama teman.
- Menghormati batasan dan persetujuan (consent) orang lain.
- Menyadari bahwa saat ini banyak ruang publik telah dipantau kamera dan mudah tersebar melalui media sosial.
Hasil Kesepakatan: Draf SOP Transpuan Pekerja Jalanan
Dari berbagai masukan yang disampaikan, peserta berhasil menyusun sejumlah poin penting sebagai dasar SOP bersama.
Yang Harus Dilakukan
✅ Bersikap sopan saat bekerja.
✅ Berpenampilan rapi dan pantas.
✅ Menjaga ketertiban dan mematuhi aturan lalu lintas.
✅ Saling mengingatkan serta menjaga komunikasi antar teman.
✅ Menunjuk koordinator atau ketua di setiap wilayah kerja.
✅ Melakukan pendataan dan koordinasi dengan pihak terkait jika diperlukan.
✅ Menghormati aturan yang berlaku di setiap wilayah kerja.
✅ Menjaga keunikan dan kreativitas masing-masing dalam berkarya.
Yang Tidak Boleh Dilakukan
❌ Berkata kasar atau mengumpat.
❌ Membawa emosi pribadi ke tempat kerja.
❌ Memamerkan atau menghitung hasil pendapatan di lokasi kerja.
❌ Saling menjatuhkan sesama teman.
❌ Membuang uang pemberian dari masyarakat.
❌ Melakukan pelecehan fisik maupun verbal.
❌ Melakukan tindakan kriminal seperti mencuri.
❌ Merusak kendaraan atau properti orang lain.
❌ Membuat keributan di area kerja.
Langkah Awal Menuju Ruang Kerja yang Lebih Aman
Penyusunan SOP ini menjadi langkah penting untuk memperkuat perlindungan, solidaritas, dan profesionalisme komunitas transpuan pekerja jalanan di Yogyakarta. Harapannya, kesepakatan ini tidak hanya menjadi dokumen tertulis, tetapi juga menjadi panduan bersama dalam membangun ruang kerja yang lebih aman, nyaman, dan bermartabat.
Yayasan Kebaya Yogyakarta percaya bahwa setiap orang berhak bekerja dengan aman dan dihormati. Melalui dialog, kesepakatan bersama, dan semangat gotong royong, komunitas dapat terus memperkuat ketahanan menghadapi berbagai tantangan yang ada.
