Upaya mendorong pemberitaan yang lebih inklusif terhadap Orang dengan HIV (ODHIV) dan komunitas transpuan semakin menguat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui pertemuan yang diinisiasi Yayasan Kebaya Yogyakarta pada 7 April 2026 di Hotel Tara, sekitar 25 jurnalis dari berbagai platform media berkumpul dalam satu ruang dialog yang jarang terjadi—ruang yang mempertemukan langsung media dengan suara komunitas.
Kegiatan ini tidak sekadar forum diskusi biasa. Sejumlah media menyoroti bahwa pendekatan yang dibangun bersifat partisipatif, di mana jurnalis tidak hanya menerima materi, tetapi juga mendengar langsung pengalaman hidup dari ODHIV dan komunitas transpuan. Dalam beberapa liputan, ditekankan bahwa pengalaman personal ini menjadi pintu masuk penting untuk memahami dampak nyata stigma dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu pesan yang mengemuka dalam berbagai pemberitaan adalah bahwa stigma sering kali tidak hanya lahir dari masyarakat, tetapi juga diperkuat oleh cara isu diberitakan. Seperti disoroti dalam sejumlah artikel, praktik jurnalisme yang kurang sensitif—baik dari pemilihan diksi, sudut pandang, maupun framing—dapat memperparah diskriminasi. Sebaliknya, media memiliki potensi besar untuk membangun narasi yang lebih adil dan manusiawi.
“Sering kali yang muncul bukan cerita manusia, tapi labelnya. Di situlah stigma terus hidup,” ungkap salah satu peserta diskusi.
Dalam forum tersebut, jurnalis diajak melihat isu HIV dan keberagaman gender secara lebih komprehensif. Beberapa liputan media mencatat bahwa pemahaman yang utuh menjadi kunci untuk menghasilkan pemberitaan yang tidak bias. Salah satu narasi yang sering muncul adalah pentingnya “melihat manusia di balik isu”, bukan sekadar menjadikan mereka objek berita.
Fasilitator kegiatan, Shinta Maharani, koresponden Tempo, menegaskan pentingnya perspektif dalam kerja jurnalistik.
“Jurnalis tidak hanya menulis apa yang terjadi, tapi juga menentukan bagaimana publik memahami sebuah isu. Di situlah tanggung jawabnya,” jelasnya.
Kegiatan ini juga difasilitasi oleh jurnalis berpengalaman, Shinta Maharani, koresponden Tempo, yang dalam berbagai pemberitaan disebut menekankan bahwa jurnalisme memiliki tanggung jawab sosial. Dalam salah satu perspektif yang muncul, jurnalis tidak hanya bertugas menyampaikan informasi, tetapi juga memastikan bahwa informasi tersebut tidak memperkuat stigma atau ketidakadilan.














Beberapa media juga mengangkat kisah inspiratif dari ODHIV yang berbagi pengalaman hidupnya—mulai dari menghadapi vonis hingga proses bangkit kembali. Cerita-cerita ini menjadi pengingat bahwa di balik angka dan isu, terdapat individu dengan harapan, perjuangan, dan martabat yang harus dihormati.
Sebagai penutup, kegiatan ini menghasilkan komitmen bersama dari para jurnalis untuk mendorong praktik pemberitaan yang lebih sensitif, berimbang, dan inklusif. Penandatanganan komitmen tersebut bukan sekadar simbol, tetapi menjadi penegasan bahwa perubahan cara media membingkai isu adalah langkah nyata yang harus terus dijaga.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa perubahan narasi tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kerja bersama antara media dan komunitas untuk memastikan bahwa setiap cerita yang disampaikan tidak lagi memperkuat stigma, melainkan membuka ruang pemahaman dan empati yang lebih luas.
